Senin, 01 Oktober 2012

Hoax Bikin Hoek


Bagi yang tiap hari bergelut dengan internet, pasti sudah nggak kaget membaca artikel-artikel bohong. Contohnya berita tentang penyanyi remaja Justin Bieber yang ''ternyata'' seorang kakek-kakek, atau tentang kematian aktor laga Jackie Chan. Meski sempat bikin gempar dunia maya, toh kabar yang bikin orang mengernyitkan dahi itu pun segera diketahui bahwa itu sama sekali nggak benar.
Berita tentang Justin Bieber dan Jackie Chan itu baru beberapa. Dan dunia maya seolah jadi sasaran paling empuk untuk menyebarluaskan bermacam-macam kabar burung. Mulai dari gosip selebritas, info kesehatan, keagamaan hingga virus komputer.
Hmm, usaha untuk menipu atau mengakali masyarakat itu namanya hoax. Bagaimana ceritanya istilah hoax bisa jadi kondang terutama di kalangan pengguna internet? Mulanya, ada film drama berjudul The Hoax pada 1996 di Amerika. Film yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Clifford Irving itu rupanya punya plot yang nggak sama dengan novel aslinya.
Sejak itu, film The Hoax dianggap sebagai film yang menampilkan banyak kebohongan. Akhirnya banyak kalangan di Amerika Serikat yang menggunakan kata ''hoax'' untuk menggambarkan kebohongan. Lambat laun, istilah hoax juga digunakan oleh masyarakat di dunia termasuk Indonesia.
Nah, jika hoax masa kini beredar via kotak pesan e-mail atau artikel di situs tertentu, sadarkah kamu kalau hoax sudah eksis sejak zaman dahulu? Masih ingat gosip bakal datang kiamat yang diworo-worokan lewat selembar kertas? Di dalamnya, si pengirim menyuruh para pembaca untuk menggandakan kertas tersebut biar kiamat nggak jadi datang.
Biasanya kalimatnya berbunyi seperti ini: ''Barang siapa menerima pesan ini, tanpa mengirimkannya ke orang lain, maka Anda akan celaka.'' Pokoknya, isi surat sengaja dibikin sedemikian rupa supaya si penerima surat merasa takut dan terancam. Itulah hoax. Ciri khasnya adalah efek berantai yang ditimbulkan dari berita menggemparkan itu.
Jadi, mulai sekarang marilah kita kenali ciri-ciri hoax. Apa itu? Pertama, topik hoax selalu unik. Misalkan saja foto turis yang nampang di atas gedung kembar WTC dan dilatarbelakangi sebuah pesawat yang hendak menabrak gedung itu. Hm, olahan foto itu berhasil menipu jutaan orang di dunia, lo.
Kedua, berita hoax terkadang disertai dengan istilah ilmiah, angka-angka, bahkan alamat kantor berita di internet biar terlihat asli.
Nah, untungnya di Indonesia penyebar hoax bakal dikenai pidana penjara selama enam tahun dan denda maksimal satu milyar karena melanggar pasal dalam Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Wah, serius juga, ya? Tapi tetap aja, hoax bikin kita terhoek-hoek atau pengin muntah. Dan mual dan pengin muntah itu bukan hal yang nyaman, kan? (Otit)

Sabtu, 04 Agustus 2012

Kalau Kita Nggak Puasa


Hari ini Wulan nggak turut sahur dengan teman-teman satu kosnya. Dia masih melanjutkan tidur nyenyaknya, sementara teman sekamar sibuk menghabiskan nasi bungkusnya. Yuhu, Wulan memang sedang ada tamu bulanan, jadi hari ini dan seminggu ke depan dia bebas dari kewajiban berpuasa.
Menjelang pukul 12 siang, perut Wulan merasa lapar berat. Namun, dirinya nggak mau buru-buru meluncur ke warung. Antara lapar dan malu karena harus jajan pas hari puasa, Wulan pun dilanda dilema. Nah, dilema Wulan pastinya pernah dialami oleh semua cewek yang sedang nggak berpuasa lantaran datang bulan saat Ramadan. Ada perasaan serba salah dan nggak tahu harus ngapain kalau tibatiba diserang lapar tengah hari, kan? Apalagi pas lagi berkumpul dengan teman-teman.
Duh, malu dong kalau terang-terangan minta izin mau mengisi perut ke kantin sebelah? Tapi, hal ini pernah dialami oleh Rosa Arie Suryani. Mahasiswa semester dua Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip itu mengaku terpaksa saat dirinya makan di warung. ''Waktu itu kepepet banget. Nggak bisa menahan lapar. Akhirnya aku cari warung yang sepi dan nggak di pinggir jalan. Jadi biar bisa bebas makan dan tetap menghormati orang yang berpuasa,'' ceritanya. Sebenarnya, cewek berkerudung itu berniat untuk menahan laparnya. Takut justru berakibat fatal pada kesehatannya, Rosa memilih untuk segera makan.
Biar nggak terulang lagi, cewek asal Kudus itu kini selalu membeli makan di jam-jam sahur. ''Dengan membeli makan pas sahur, aku tetap bisa makan tanpa harus merasa nggak enak dengan orang lain,'' katanya. Perasaan nggak enak hati yang dialami Rosa memang wajar. Di hadapan orang yang sedang berpuasa, hendaknya kita memang menghargai dengan cara nggak makan dan minum di hadapannya. Luntur Sayangnya, perasaan sungkan itu lama-lama kayaknya luntur di kalangan remaja. Nggak jarang kita menjumpai anak sekolah yang leluasa keluar masuk warung makan di siang bolong. Benar banget kalau puasa itu menahan lapar dan haus bagaimana pun kondisinya. Nggak peduli cuaca panas dan di tempat yang banyak penjaja es buah, misalnya.
Tapi nggak berarti kita leluasa makan dan minum di depan mereka, kan? Septi Agnita juga merasakan kecenderungan itu. Tapi menurutnya, sikap menghargai itu timbul karena lingkungan dan kebiasaan. ''Kita bisa merasa malu makan di depan orang berpuasa karena sedari kecil keluarga dan sekolah mengajarkan tentang menghargai orang yang berpuasa,'' terang cewek yang baru saja lulus SMAitu. Tapi kata Septi, lagi-lagi semua itu kembali pada masing-masing individunya. ''Memang ada orang yang bersikap cuek. Tapi nggak semua kayak gitu. Ya, itu tergantung individunya masing-masing,'' kata Septi. (Otit)

Cerdas Memilih Tayangan Ramadan

Stasiun televisi berlomba-lomba membuat tayangan khusus Ramadhan.  Para Pencari Tuhan dan Tapsir Al Misbah dikepung komedi, musik, dan sinetron drama. Kecerdasan sangat dibutuhkan  agar tak salah pilih tayangan yang tak berkualitas.
Ramadhan tahun 2007 silam, para penonton televisi mendapat hiburan segar sekaligus dakwah Islam yang dikemas dalam format sinetron. Dengan tokoh utama seorang penjaga mushala yang diperankan oleh Dedi Mizwar dan tiga orang pengembara diperankan oleh trio Bajaj, sinetron yang berjudul Para Pencari Tuhan (PPT) berhasil menyedot perhatian.
PPT hadir pada momentum yang tepat, di kala masyarakat yang jenuh dengan suguhan kisah drama yang semakin tak realistis. Seperti membentuk tren, tayangan sinetron kala itu seragam menyajikan konflik-konflik ekstrem yang dibalut dengan kemewahan dan ketimpangan yang besar antara ekonomi si kaya dan si miskin. Belum lagi kekerasan dalam tutur dan tindakan para tokoh yang pastinya berdampak buruk.
Inisiatif Dedi Mizwar melahirkan PPT terbukti berhasil dan disambut positif oleh berbagai pihak. PPT terkenal sebagai sinetron yang banyak penggemarnya sekaligus banyak iklannya. Bahkan tontonan ini sampai menggelar beberapa kuis interaktif berhadiah umroh.
Konsistensi sinetron yang mengangkat permasalahan masyarakat kelas bawah ini yang membuat PPT mampu mempertahankan penontonnya hingga sekarang. Buktinya pada Ramadhan tahun ini PPT hadir lagi untuk keenam kalinya di layar SCTV.
PPT adalah salah satu contoh tayangan Ramadhan berkualitas. Tidak hanya mendongkrak rating karena banyak penontonnya, juga sarat siraman rohani yang memang pas ditayangkan di bulan suci.
Belakangan PPT sampai menarik minat Negara Malaysia. Sebuah production house dari Malaysia berencana menayangkan sinetron yang kental dengan humor itu di negeri jiran.
PPT membuktikan kepada pemirsa yang terlanjur skpetis dengan hiburan televisi Indonesia bahwa kalau mau, sinetron yang ”bergizi”pun bisa diproduksi dan menjadi tayangan yang cocok untuk keluarga Indonesia.
Sebenarnya, Ramadhan memang waktu yang tepat bagi televisi swasta menyajikan sinetron religi. Sayangnya, tidak semua sinetron bernuansa Islam yang tayang tergolong berkualitas.
Sebut saja sinetron spesial Ramadhan tayangan RCTI berjudul Air Mata Ummi. Tayangan perdana sinetron dengan tokoh utama Widyawati itu memang mendapat sambutan positif pemirsa. Pasalnya meski konfliknya klise, setidaknya tayangan ini mengambil sudut pandang yang tak biasa, yaitu kehidupan keluarga dan seorang ibu.
Adegan Keburukan
Namun seiring waktu pemirsa mulai merasa bosan karena sinetron tersebut cenderung mengikuti pola sinetron pada umumnya. Seolah masyarakat sudah bisa menebak alur sinetron yang selalu menyajikan permasalahan perselingkuhan, kekerasan, kedengkian dan penindasan.
Hal yang sama juga tampak pada sinetron Tukang Bubur Naik Haji. Tayangan sekuel dari film pendek berjudul sama itu juga menuai kekecewaan dari pemirsanya. Nilai kebaikan yang akan ditonjolkan justru kalah dengan adegan keburukan yang terus diulang-ulang.
Tapi, bukan lantas pemirsa tidak punya alternatif tontonan yang baik. Beberapa stasiun televisi tetap menghadirkan acara untuk memenuhi kebutuhan rohani masyarakat. Semisal beberapa program khusus Ramadhan Metro TV.
Televisi berita itu menawarkan program acara seperti Ensiklopedia Islam, Inspirasi Ramadhan, Oase Ramadhan dan Tafsir Al Mishbah. Beberapa program tersebut merupakan progam yang sudah ada di tahun sebelumnya. Tampaknya, Metro TV percaya diri memberikan tayangan serupa kepada pemirsa.
Sajian religi di stasiun tersebut memang sudah mempunyai pemirsa setia. Kebanyakan penggemar acara tersebut mereka yang tak semata membutuhkan hiburan tapi lebih dari itu. Tafsir Al Mishbah yang menghadirkan M Quraish Shihab itu mengkaji makna Al-Quran lebih jauh. Acara ini bertujuan membantu pemirsa yang mengalami kesulitan memahami makna Al-Quraan secara lebih dalam.
Meski tak merajai rating, tampaknya pihak penyelenggara acara ini menyadari kebutuhan masyarakat tak melulu pada acara lawak, konser musik atau sinetron bernuansa religi.
Stasiun televisi Indosiar mempunyai program sinetron berjudul Sembilan Wali yang membidik para pencinta sinetron, Rangkaian Jalan Hikmah bersama Ustadz Solmed, Jelajah Masjid, Catatan Harian Santri dan Muhibah Pesantren. Tayangan jenis magazine documentary itu diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pemirsa akan ilmu keislaman.
Ya, jika mau memilah, sebenarnya masyarakat bisa menjumpai tayangan Ramadhan yang berkualitas dan menyejukkan hati. (Otit)

Siap-Siap Jadi Mahasiswa


Pengumuman kelulusan memang sudah berlalu. Hura-hura siswa kelas III saat merayakan predikat lulus juga sudah selesai. Tapi, jenjang yang lebih tinggi justru baru dimulai. Yups, sebagian besar lulusan SMA bakal jadi mahasiswa, kan? Lantas, sudah siapkah kamu yang dulu selalu berangkat sekolah sebelum pukul 07.00 kini harus ”mengenyam” bangku kuliah?

Ada yang bilang, jadi mahasiswa itu lebih enak dari siswa. Kalau siswa harus patuh dengan sederet peraturan sekolah, mahasiswa nggak begitu amat. Eits, itu cuma kelihatannya, lho. Jadi mahasiswa justru nggak mudah.

Kamu yang baru saja memensiunkan seragam putih abu-abumu memang kudu pandai beradaptasi dengan suasana kampus. Tempat yang lebih luas dan teman yang lebih beragam bakal jadi belantara rimba jika kamu susah melakukan penyesuaian.

Hei, jangan paranoid dulu ya, Teman. Dibanding sekolah, kuliah itu memang lebih bebas. Paling nggak kayak yang ada dalam bayangan Winda Septi. Lulusan SMA 2 Semarang itu sudah nggak sabar menyandang predikat mahasiswa.

''Bayangin kuliah itu asyik kayaknya. Nggak perlu pakai seragam, lebih boleh berekpresi, dan aku boleh bawa motor,'' ceritanya girang.

Cewek yang sedang harap-harap cemas agar bisa diterima di Fakultas Kedokteran Undip itu antusias banget memasuki gerbang kuliah. Dirinya sudah siap banget menjalani pengalaman pertamanya jadi mahasiswa nanti.

Ketertarikannya pada dunia medis juga membuat Winda sudah bisa membayangkan kuliahnya nanti. ''Aku sudah mempersiapkan diri kalau misal nanti disuruh bongkar-bongkar mayat. Yang penting berpikir positif aja sih. Jadi dokter memang nggak mudah. Tapi kakak kelas dan teman-temanku bisa, kenapa aku nggak?'' tuturnya cewek humoris itu.

Teman Baru

Ada yang bilang, kampus itu miniaturnya Indonesia. Nah lho, kok bisa? Itu karena mahasiswa yang kuliah, nggak cuma terbatas teman-teman satu kota seperti halnya sewaktu di SMA. Dari kampuslah kamu bisa punya banyak teman dari berbagai belahan Nusantara. Asyik, kan?

Syahrani Aulia Lubis atau yang akrab disapa Rani itu sepertinya sudah tahu benar hal itu. ''Wah, aku excited banget untuk menghadapi semua hal baru, termasuk kuliah. Terutama saat beradaptasi dengan lingkungan dan pergaulan baru,'' terang cewek yang doyan banget nonton film aksi itu.

Lulusan SMA 5 Semarang itu menyadari teman-teman barunya nanti pastinya datang dari beberapa daerah. Makanya dia merasa kudu memperluas pergaulan dengan teman baik dari dalam atau luar Semarang. ''Dari sekarang aku sudah mulai beradaptasi dengan teman baru. Caranya kontak-kontakkan lewat Twitter sama teman-teman satu prodi,'' kata calon mahasiswa Jurusan Ilmu Gizi Undip itu.

Tapi ada satu yang penting, Teman. Meski bebas, jika pengin selalu meraih nilai memuaskan sejak semester satu, tentunya harus rajin masuk kuliah dan baca buku. Kalau pengin menimba pengalaman berorganisasi dan punya banyak relasi, maka ikutlah kegiatan-kegiatan positif di kampus. Atau pengin meraih keduanya, bisa saja.

Pokoknya, manfaatkan seoptimal mungkin fasilitas dan tawaran yang diberikan kampus. Jangan disia-siakan ya, Teman? Seperti kata banyak orang, kuliah itu nggak cuma di dalam kelas saja, hehe....

Seperti kata Rani saat mendengar kata ''mahasiswa''. ''Mahasiswa? Mahasiswa adalah pelajar yang lebih bebas. Bebas yang mengikat. Waktu kuliahnya aja yang bebas, tapi soal tanggung jawab, nggak bisa bebas, kan? Kudu ketat,'' terangnya yakin.

Oke deh, Rani. Sepakat banget sama pendapat kamu. Jadi, mari bersiap menjadi mahasiswa yang keren. Bersemangat! (Otit)

Minggu, 08 Juli 2012

Ketika Olga Tersandung Lawakannya

Olga Syahputra memang pandai mengocok perut penonton. Banyolan yang segar dan spontan membuat pria 29 tahun itu laris manis di televisi nasional. Tapi tampaknya Olga tak pandai mengendalikan diri saat melawak. Demi membuat pemirsa tertawa, artis yang memulai kiprah dengan menjadi figuran itu kadang menerjang norma kesopanan.
Akibatnya, pria yang khas dengan tingkah kemayunya itu tidak jarang menuai protes dari banyak kalangan. Candaannya dianggap menghina, melecehkan bahkan mencela orang lain. Bahkan 90% kontroversinya disebabkan gaya humornya yang kasar.
Seperti tak jera, beberapa waktu yang lalu Olga kembali menerima kritik. Sikapnya pada tayangan Pesbukers ANTV dinilai melecehkan salam. Dalam sebuah segmen, Olga menyamakan kalimat salam dengan kebiasaan pengemis, tentu saja untuk memancing tawa.
Sebelumnya, artis jebolan sanggar Ananda itu juga pernah mendapat protes dari Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Pendamping Korban Perkosaan. Kata-katanya dalam sebuah acara dinilai melecehkan para korban pemerkosaan.
Tapi tampaknya, rating masih menjadi raja. Lawakan Olga masih diwadahi dalam beberapa acara televisi demi mempertahankan ratingnya untuk selalu di atas. Bahkan beberapa menilai Olga hanya korban eksploitasi para pengelola program siaran.
Itu adalah cerminan dunia hiburan Indonesia terutama pada televisi. Ratting tinggi justru dimiliki oleh acara dengan obrolan-obrolan yang kasar dan guyonan yang melampaui batas. Di sisi lain, pemirsa membutuhkan acara yang tak sekadar tontonan tapi bisa jadi tuntunan.  Meskipun begitu seharusnya Olga tahu bahwa melawak tak perlu harus mencela orang lain. Kecerdasan pelawak sangat berperan dalam menciptakan kesegaran guyonan. Jika melawak cerdas, maka tak perlu melakukan blunder yang bikin orang lain gerah.

Sanksi KPI

Keresahan masyarakat akan tingkah Olga tak lantas membuat Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) berdiam diri. Surat teguran sudah dilayangkan kepada lembaga penyiaran yang menayangkan lawakan Olga yang kontroversial itu. Bahkan sejak Rabu (5/6), KPI sudah mengirimkan surat keputusan penghentian program Pesbukers kepada managemen ANTV.
Olga dinilai melanggar Pasal 36 ayat 6 Undang-Undang RI No 32 tahun 2002 tentang Penyiaran. Di situ jelas dikatakan isi siaran dilarang memperolok, merendahkan, melecehkan, dan mengabaikan nilai-nilai agama, martabat manusia Indonesia, atau merusak hubungan internasional.
Dalam Pedoman Perilaku dan Penyiaran (P3) dan Standar Program Siaran (SPS) 2012 dikatakan bahwa program siaran yang terbukti secara sah melakukan pelanggaran akan dikenakan sanksi administratif. Sanksi itu meliputi teguran tertulis, penghentian sementara, pembatasan durasi, denda adminstratif, pembekuan kegiatan siaran, tidak diberi perpanjangan izin penyelenggaraan penyiaran hingga pencabutan izin siaran.
Sayangnya, kasus Olga menjadi bola liar manakala para fanatik artis yang mempunyai satu juta lebih follower itu bereakasi keras atas keputusan KPI. Fans Olga mengancam melakukan pembunuhan terhadap anggota KPI.
”Ancaman itu datang setelah kami mengeluarkan peringatan terhadap program ëíPesbukersíí . Sorenya saya dapat telepon yang mengancam, melalui akun Twitter juga,” cerita Ezki Suyanto, salah satu anggota KPI.
Padahal KPI yang telah melakukan tugasnya patut dihargai dan didukung oleh semua pihak. Setidaknya dari peristiwa yang dialami Olga dapat memberikan pelajaran bagi siapa saja bahwa dalam menghibur orang pun harus taat dengan norma.
Pelanggaran norma dalam acara televisi atau radio memang menjadi jangkauan pengawasan KPI. Tapi komisi ini tidak bekerja sendiri. Dalam Sosialisasi P3SPS 2012 di Hotel Pandanaran, Selasa (4/6) Ketua KPID Jawa Tengah, Budi Sudaryanto mengajak seluruh masyarakat untuk turut memantau penyiaran di Indonesia.
Timbulnya kesadaran bersama dari seluruh lapisan masyarakat terhadap program siaran yang melenceng akan membantu tugas KPI memantau acara yang tayang di masyarakat. Aduan dapat masuk ke KPI melalui SMS, telepon, dan email.
Salah satu sikap tegas KPI terlihat pada pencabutan izin acara Empat Mata yang tayang di stasiun Trans 7 tahun 2008 silam. Acara yang waktu itu juga meraih ratting tinggi terpaksa harus mandeg karena salah satu episodenya menayangkan adegan yang tidak pantas.
Lantas, acara serupa muncul lagi dengan nama Bukan Empat Mata dengan konsep, pembawa acara dan kemasan yang sama. Beberapa pihak mempertanyakan bagaimana bisa acara yang sudah dicekal bisa disiarkan kembali hanya dengan mengganti nama.
Budi Sudaryanto menjelaskan bahwa waktu itu peraturan tentang ini belum dibahas secara detail dalam P3SPS. ”Tapi P3SPS yang terbaru yaitu tahun 2012, sudah mengatur tentang itu,” katanya. Artinya, pencekalan tidak terbatas pada nama acara tapi juga menyentuh konsep dan isi acara.
KPI sudah menjalankan tugasnya. Maka sudah sewajarnya jika kita mengapresiasinya. Tapi kembali lagi, masyarakat juga turut berkontribusi dalam melakukan pemantauan terhadap siaran televisi dan radio. Para artis pun hendaknya cerdas dalam melempar lawakan. Harusnya mereka mampu membuat orang tertawa tanpa menjadikan orang lain sebagai bahan tertawaan.

Senin, 04 Juni 2012

Meraih Popularitas dengan Sensasi


Menjadi terkenal memang tidak mudah. Butuh pembuktian dan eksistensi dalam bentuk prestasi. Tapi tampaknya hal itu tidak berlaku pada dunia hiburan Indonesia. Hanya karena ingin terkenal secara instan, beberapa artis memilih menggunakan cara menebar sensasi.
Sensasi demi sensasi yang tak pernah absen dari acara infotainment memang berhasil menye dot perhatian masyarakat. Meski melalui hujan cibiran dan kalimat sinis, toh artis yang jadi objek omongan itu makin terangkat juga namanya.
Strategi inilah yang agaknya dipilih Nikita Mirzani untuk mengibarkan namanya di industri hiburan. Muncul pertama kali dengan pemberitaan kasus pemukulan terhadap dirinya oleh Kiki “The Potters“. Dan kasus semakin berbuntut panjang lantaran Kiki juga meladeni tuduhan sang mantan pacar itu.
Setelah peristiwa itu, seolah nama Nikita semakin akrab di telinga para pemirsa televisi. Wanita yang kerap muncul di majalah dewasa tersebut sempat menjadi pembahasan karena foto-foto syurnya bersama Andrew Andhika dan foto kontroversi bersama artis Daus Mini.
Pengakuannya berselingkuh dengan komedian Indra Birowo juga menyedot perhatian awak media. Pasalnya jarang sekali seorang artis dengan tegas dan terkesan bangga mengaku dirinya merebut suami orang.
Tak berhenti di situ. Perseteruannya dengan aktris dan model, Jenny Cortez pun selalu membuat penasaran publik. Aksi saling cela melalui Twitter dan konfrensi pers berlangsung sengit bak anak kecil yang sedang saling bermusuhan.
“Buat kamu, mudah-mudahan kamu cepat sadar. Kalau bikin sensasi jangan yang murahan. Yang mahalan dikit nggak bisa emangnya,“ lontar Jenny Cortez kepada Nikita pada sebuah jumpa pers.
Keduanya memang sedang terlibat pembuatan sebuah film. Konon perselisihan mereka berawal dari perang Twitter dan bersambung di lokasi syuting. Belakangan Nikita malah mengaku pertengkaran sengitnya dengan Jenny hanya akting semata.
“Itu cuma settingan. Ribut-ribut aku sama Jenny dipakai untuk naikkin film baru dimana saya sebagai pemeran utama dan Jenny peran pembantu,“ ujar Nikita.
Ya, mau tak mau pada akhirnya wanita 26 tahun tersebut lekat dengan kesan buruk. Namun hal itu tak lantas membuat Nikita gusar. Namanya yang semakin kondang justru membuat wanita yang pernah berurusan dengan FPI karena pose yang menon jolkan aurat itu dibanjiri job.
Cinta Penelope
Bosan dengan cerita sensasi Nikita Mirzani, pemirsa televisi ganti disuguhi dengan cerita mengagetkan yang datang dari Cinta Penelope. Wanita pelantun ”Keong Racun” itu membeberkan nasib yang dialami sebagai istri ke enam vokalis grup musik Debu, Mustofa.
Sambil berderai air mata, Cinta, panggilan akrabnya mengurai kisah bahwa dirinya dinikah siri di dalam mobil oleh Mustofa, sang vokalis. Pernikahannya tak berlangsung lama, bahkan cerita Cinta semakin tampak memilukan saat dirinya bilang pernyataan cerai diucapkan Mustofa hanya melalui telepon.
Belakangan, nama wanita yang mempunyai banyak tato di tubuh itu juga ramai diperbincangkan di forum dunia maya. Bagaimana tidak, Cinta mengaku telah dilecehkan oleh seorang ustadz. Cerita tentang dirinya akan dinikah siri hingga celana dalamnya dicuti sang ustadz pun mengemuka.
Terang saja cerita yang tidak biasa itu memancing komentar ngalor-ngidul di dalam forum gosip. Tapi sadar atau tidak, ramai dan hangatnya perbincangan tentang sepak terjang Cinta dengan si ustadz telah membuat namanya makin tenar.
Ya, lagi-lagi sensasi. Setelah heboh cerita gontokgontokan antara Jupe dan Depe, kini eranya Nikita Mirzani dan Cinta Penelope. Dan benar, gara-gara cerita yang bikin orang geleng-geleng kepala itu, maka terkenallah mereka.
Publik figur memang butuh diberitakan oleh media. Kalau tidak karena prestasi, ya karena sensasi. Jika artis sepi pencapaian prestasi seperti membuat film, merilis album atau menang penghargaan, maka untuk mejadi tenar cukup bikin sensasi. Seperti yang sudah-sudah, seleb yang ribut dengan sesama seleb, berdandan seronok, menyebarkan foto atau video mesum berhasil membuat mereka menghiasi layar kaca setiap hari.
Tapi, tentu saja masyarakat tahu dan pintar memilah, artis terkenal mana yang berhak mendapatkan tepuk tangan penghargaan dari penggemarnya. Agnes Monica contohnya. Gadis 26 tahun itu kerap wara-wiri di layar televisi. Bukan karena gosip tentang kehidupan pribadinya, Agnes justru eksis karena sering mendapatkan penghargaan.
Penyanyi cilik yang berproses menjadi artis multitalenta itu baru-baru ini menggondol dua penghargaan digital dari Shorty Award untuk kategori Best Singer 2012 dan Best Fashion 2012. Ditambah dirinya masuk nominasi penghargaan bergengsi Amerika, Nickelodeon Kidís choice Award 2012.
Atau bintang film berparas ayu, Dian Sastrowardoyo. Beberapa hari yang lalu, ibu satu anak itu mendapat kehormatan menghadiri pagelaran akbar insan film dunia, Festival Cannes 2012.
Namanya di belantika perfilman Indonesia memang tidak perlu diragukan lagi. Jadi, tak usah mewartakan kisah pribadinya pun, kehadiran Dian sudah ditunggu-tunggu para pencinta film.
Ya, sensasi memang jalan pintas menuju terkenal. Tapi sebenarnya siapa yang membuat para artis kelas dua itu menjadi terkenal? Adalah masyarakat sendiri yang juga dimakan penasaran dengan berita demi berita yang dilontarkan seleb kurang terkenal itu.
Jadi, akankah ketenaran artis penuh sensasi bertahan lama? Jawabannya bergantung pada kita sebagai penonton. Tertarik tidak untuk mengikuti setiap kisah sensasinya lagi, dan berminatkah kita menonton filmnya? (Otit)







Nelpon Salah, Nggak Nelpon (juga) Salah


Lagi asyik-asyiknya main Play Station (PS), tiba-tiba ponsel Rico berbunyi. Sebuah pesan pendek dari ceweknya rupanya. ''Lagi ngapain, Say? Udah makan belum?'' begitulah yang tertulis di layar. Itu SMS kesekian kali dalam sehari dari si cewek. Rico bingung. Pengin tetap melanjutkan main PS yang tanggung kalau ditinggal atau balas SMS dulu.
Dilema Rico yang seperti itu nggak cuma sekali terjadi. Beberapa kali SMS dari si cewek dirasa nggak tepat waktu. Kalau nggak buru-buru dibalas, pacar marah. Kalau SMS dijawab kilat, bisa-bisa kerjaan yang lagi dihadapi nggak kelar-kelar.
Kebingungan yang dialami Rico itu wajar. lho. Bukan berarti Rico sudah nggak sayang dengan pacarnya, tapi komunikasi yang sering dan nggak terlalu penting terkadang justru bikin bosen. Setuju nggak?
Dalam hubungan pacaran, SMS atau telepon sekadar menanyakan kabar memang bikin hubungan makin mesra. Nah, biar komunikasi tetap jalan tapi nggak bikin bosan, ada caranya, lho.
Coba tengok gaya pacaran Desya Tri Marhaenda (19). Desya memang tiap hari bisa bersua dengan pacar karena kebetulan mereka sekampus. Tapi cewek penggemar Jejepangan itu punya cara biar nggak jenuh meski sering ketemu dengan pacar.
''Kami ketemu di kampus tiap hari. Kalau sudah sampai rumah, ya SMS atau telepon kalau lagi ada perlu saja. Kadang kalau terpaksa telepon-teleponan malah saling diam karena nggak tahu mau ngomong apa,'' katanya.
''Biar nggak bosan, jangan sering-sering kirim pesan deh. Apalagi kalau pesannya diulang-ulang, misalnya keseringan nanya lagi dimana, sama siapa. Malah bikin sebal.''
Desya memang tahu kalau pasangannya juga butuh waktu untuk istirahat, bermain, belajar atau melakukan hal lain saat nggak bareng dia. Begitu pun dirinya. Nah, itu yang namanya menghormati privasi pacar.
Cara Teguh Ariyanto menghindari kejenuhan dengan pacar juga sama dengan yang dilakukan Desya. Karena dari pagi hingga sore sudah ketemu, maka di rumah Teguh hanya mengirim SMS sekali saja.
''Aku cuma kirim SMS sekali saja sekitar pukul 20.00 sehabis belajar. Tapi di facebook nggak menutup kemungkinan buat saling komentar,'' cerita siswa SMA 5 Semarang itu.
Cowok yang aktif di organisasi sekolah itu mengaku pernah merasa jenuh gara-gara keseringan SMS dengan sang pacar. ''Kalau sudah nggak ada yang dibahas, biasanya mencari-cari alasan biar SMS-annya selesai,'' terangnya sambil nyengir.
Ya, Teguh menyadari kalau komunikasi yang efektif itu penting dalam sebuah hubungan. Menurutnya, SMS, telepon, berinteraksi di dunia maya bisa menumbuhkan rasa saling percaya dan nggak bikin curiga.
Tapi urusan komunikasi, memang balik lagi ke orangnya masing-masing. Ada juga pasangan yang enjoy meski harus tiap menit SMS-an terus. Kayak cerita Elisa Susan nih.
''Wah, nggak terhitung sehari SMS berapa kali. Hm, bukan bermaksud lebai sih. Tapi satu jam saja nggak kasih kabar rasanya aneh. Stop SMS itu kalau lagi mandi dan tidur. Seharian penuh SMS-an baru ditutup dengan telepon,'' cerita siswi SMK Farmasi Yayasan Pharmasi Semarang.
Komunikasi yang seperti itu justru bikin Elisa dan sang pacar merasa nyaman dan diperhatikan. Bahkan meski tiap hari ketemu di sekolah, si pacar selalu menyempatkan diri datang berkunjung ke kos Elisa.
Meski mengaku pernah jenuh, cewek yang jadian sejak enam bulan lalu itu selalu berhasil dibikin nyaman kembali oleh sang pacar. ''Cowokku orangnya romantis. Dia nggak pernah kehabisan topik bahasan meski kadang yang dibahas hal-hal nggak penting,'' katanya.
 Oke deh. Rupanya tiap pasangan punya cara sendiri dalam berkomunikasi dan mengusir kejenuhan. Jadi, temukan model komunikasimu dengan pasangan dan semoga langgeng ya, Teman! (Otit)